Banyumas | mediasinarpagigroup.com – Ada satu ungkapan klasik yang keras dan kini jarang terdengar berkumandang. Bila suatu perkara atau urusan yg sangat urgen diserahkan kepada orang atau suatu kaum yang bukan akhlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Ungkapan yang merupakan sebuah peringatan tersebut benar-benar membuat merinding hati yang mendengarnya. Betapa tidak, karena diera yang serba kompetitif dinegeri ini, berbagai macam perkara, persoalan, urusan dan permasalahan senantiasa muncul bertubi-tubi dan silih berganti tiada berhenti, baik masalah sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, politik, budaya, apalagi yang menyangkut dengan keadilan, keamanan dan kesejahteraan masyarakat luas.
Akar permasalahannya terjadi pada saat berlangsungnya pesta demokrasi pemilu dinegeri ini yang dilaksanakan 5 tahun sekali, banyak para kandidat alias calon2 yang berbekal ambisi semata, mengejar status sosial, bukan dilandasi oleh kemauan yang luhur untuk bisa mengabdikan dirinya berbakti kepada ibu pertiwi, sehingga saat calon kemudian terpilih tidak sedikit yang menyimpang dari tujuan semula dan lupa pada janji2 yang pernah diucapkan untuk menciptakan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran rakyat.
Negeri kita ini memang sudah terkontaminasi dengan berbagai macam lipstik, manipulasi dan moneypolitik. Tidak usah heran kenapa minyak kayu putih berwarna hijau, buah kelapa muda yang berkulit hijau atau kuning tapi dagingnya berwarna putih dan airnya berwarna bening, ikan dilaut yang airnya berasa asin tapi daging ikannya tetap berasa tawar, gunung-gunung yang tampak dari jauh terlihat megah dan indah, ternyata setelah ditelusuri sampai kepuncak tidak lain hanyalah hutan-hutan belantara yang menyeramkan dan jurang-jurang terjal dan curam banyak dihuni oleh mahluk-mahluk halus dan hewan-hewan yang buas
80 tahun negeri kita merdeka, harapannya adalah bisa bersatu dan berdaulat, rakyat hidup sejahtera, maju terus untuk mencapai cita-cita Indonesia yang gemerlap bertaburkan emas permata saat kemerdekaan negeri ini berusia seratus tahun, dengan berbagai status sosial yang berbeda-beda, ada yang kaya harta sebagai trilyuner dan milyarder hingga tujuh turunan hartanya tidak akan habis bahkan terus berbunga, ada yang kaya ilmu dengan berbagai gelar formal profesor, doctor dan gelar2 penghargaan lainnya, serta ada yang cuma kaya hati berjalan dan berperi laku jujur, selalu bersyukur dalam situasi dan kondisi bagaimanapun hanya mengharap keridhoan dari sang pencipta dan penguasa alam yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut para akhli ilmu agama, salah satu sifat manusia yang sangat dibenci oleh Tuhan YME. yaitu sifat taqabur atau sombong membanggakan dirinya secara berlebihan dan suka merendahkan orang lain. Ada tiga hal yang dapat menjadikan orang jadi sombong, pertama karena kekayaan hartanya yang melimpah, kedua karena pangkat dan jabatannya, ketiga karena ilmu yang dimiliki berupa gelar formal akademik yang telah dicapainya.
Sifat taqabur atau sombong ini merupakan selendang perhiasan Tuhan, apabila ada yang berani menggunakan/memakainya maka dia akan berhadapan dan akan dimurkai Tuhan YME. sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Raja Fir’aun yang memiliki pangkat dan jabatan tertinggi serta kekayaan yang melimpah kemudian malah berani mengaku sebagai Tuhan.nya manusia, sehingga akhirnya dia ditenggelamkan kedasar lautan bersama para pengikut-pengikutnya hingga tamatlah riwayatnya. Hal ini mengajarkan kepada kita agar selalu ingat dan tidak boleh sombong, karena pada akhirnya pangkat, jabatan, kekayaan harta dan ilmu yang dimiliki tidak akan dibawa mati, kecuali amal ibadah serta perbuatan baik/buruk yang akan menjadi bekal perjalanan menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa dunia dan akhirat.
Berdiri dan tegaknya negeri ini, jatuh-bangun atau maju-mundurnya negeri ini berada ditangan para pemuka dan pemimpin dilembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan media pers serta para tokoh masyarakat dan tokoh agama, baik ditingkat pusat nasional, regional dan daerah, termasuk para pendidik, seniman, kaum intelektual dan cendekiawan untuk terus berjuang bersama-sama dengan rakyat bekerja keras, bekerja cerdas, tangkas sampai tuntas, berjiwa membangun, menghindari permusuhan dan saling menghujat dan menjatuhkan yang hanya akan melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa berlambang garuda dan bhineka tunggal ika, sehingga negeri ini akan benar-benar menjadi kuat, sehat, aman, sejahtera dan tetap merdeka. (Purwokerto, 10 agustus 2025).




