Banyumas, mediasinarpagigroup.com – Moment terpenting dalam kehidupan manusia adalah saat mengingat dan memperingati hari ulang tahun kelahirannya., Sebagai orang yang beriman tentu kita akan merasa bersyukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan kehidupan dan kepada kedua orang tua yang telah membesarkan, mendidik dan memperjuangkan terutama kepada ibu yang telah melahirkan, mengasuh dan merawatnya agar tumbuh sehat, kelak dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan masyarakat luas.
Sedangkan moment terpenting bagi para awak media cetak maupun elektronik/online, baik yang membidani dikantor pusat, pimpinan dan para redaktur serta yang berkecimpung dilapangan sebagai Wartawan atau Jurnalis dibulan Februari 2026, adalah untuk dapat memperingati ulang tahun Hari Pers Nasional (HPN) tepatnya pada tanggal 9 Februari 2026 yang tinggal beberapa hari lagi.
Sebagai salah satu aktifis jurnalis jadul sejak tahun 1975 mulai menulis dibeberapa media cetak dan elektronik/radio tentu kita mengenal nama-nama besar aktifis pers senior seperti Rosihan Anwar, B.M.Diyah, P.K.Ojong, Mochtar Lubis dan aktifis pers senior lainnya yang telah berjuang membesarkan berbagai mass-media cetak/radio yang tersebar ditanah-air, dengan menyampaikan berbagai macam informasi yang positif, edukatif dan obyektif serta aktual dan faktual kepada masyarakat luas, sesuai dengan visi-misi masing-masing mass-media nasional maupun lokal secara independen.
Mengawali karier dibidang jurnalistik dengan mulai menulis puisi dikoran Republik yang beralamat dijalan Kepodang, Semarang tahun 1975 karena mendapat suport dari pimpinan koran Republik, Bapak R. Subadhi yang juga Ketua PWI Yogyakarta, serta bimbingan dari Redaktur Budaya, Agus Erma Surya. Saat.mulai menulis di Skm. Bahari, yang berkantor dijalan Suari, Semarang juga mendapat binaan dari Redaktur Pelaksana, Hari Bustaman dan Sudiyatto, serta Martono selaku sekretaris redaksi yang membidani seni-budaya.
Masih sebagai jurnalis pemula yang berdomisili dikota administratip Purwokerto, tahun 1986 sempat bergabung dengan Ikatan Penulis Artikel Purwokerto (IPAP) yang didirikan oleh Bambang Setiabudhi sekaligus bertindak sebagai Ketua IPAP dengan Sekretaris Musya Asyari, jurnalis Skm. Buana Minggu. Th. 1988 – 1996 berprofesi sebagai wartawan Swadesi yang dipimpin oleh Bpk. Harsoko Soediro dan Redaktur Pelaksana T.D. Santoso, dengan Redaktur Seni Budaya Diyah Hadaning.
Selain menulis puisi dikoran Republik dan Skm. Bahari juga sempat mengirimkan puisi di acara gelora remaja Sta.RRI Purwokerto tiap kamis malam yang diasuh oleh Agus Sukoyo.
Selain mengisi di tabloid Banyumas Pos, Canggih, Poros Nasional, Krida Satria dan majalah Satria Pemkab. Banyumas, dan tabloid Forum Dialog (Cirebon), tabloid Suara Baru dan majalah Tajam & Obyektif di Semarang (1999 – 2000) pimpinan Anggoro Suprapto, tabloid Merdeka-Merdeka dan Kompasindo serta koran Progresif/Progresif Jaya yang dibidani oleh Asikin Aziz selaku Redaktur Pelaksana (2003 – 2014) serta media Sinar Pagi (cetak & online) pimpinan Bp. Bismar Ginting SH.MH.sejak tahun 2015 hingga memasuki awal 2026 tahun ini.
Tetapi seiring dengan perjalanan waktu dan jaman yang berubah-rubah, hingga memasuki era tekhnologi modern, diawali dengan perdagangan bebas hingga masuknya berbagai peralatan tekhnologi canggih yang telah menggeser berbagai macam peralatan manual, baik dibidang komunikasi dengan muncul/masuknya HP (handphone), tekhnologi computer, lap-top disusul dengan moda transportasi modern, dan lain-lain yang kesemuanya mampu menggeser posisi berbaga macam peralatan manual, termasuk bidang penyebaran informasi yang sebelumnya menggunakan media cetak telah berubah menggunakan media online, meski ada yang mampu bertahan masih menerbitkan media cetak dalam menyampaikan informasi kepada publik/masyarakat luas terutama kapada warga masyarakat senior yang telah memasuki usia purna dan tidak mampu beradaptasi dengan peralatan digital yang serba canggih seperti sekarang.
Kesulitan menghadapi kehidupan bagi wartawan yang merangkak dari bawah, sejak awal menapaki gelanggang pemberitaan, ajang perjuangan kaum intelektual dan orang-orang kreatif yang berjiwa patriotik. Namun untuk mencapai predikat sebagai wartawan atau jurnalis yg profesional, tidak segampang membalik telapak tangan, karena perlu waktu, proses dan pengalaman yang cukup relatif dan berliku. Idealnya profesi wartawan memang merupakan suatu proses belajar yang tidak pernah ada hentinya, harus dijalani dan ditekuni secara optimis.
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sepertinya kita sudah tak perlu bertanya lagi, kenapa ada guru/dosen, ulama, ilmuwan, tekhnokrat, aparat negara, sipil dan keamanan, dokter, pengacara, politikus, seniman, cendekiawan, usahawan, pengemudi dan lain-lain, itu berarti eksistensi mereka diakui, dibutuhkan dan diterima oleh masyarakat.
Demikian juga dengan wartawan atau jurnalis, bahkan eksistensi mereka sebagai pencari, penggali sekaligus penyebar berita/informasi yang aktual, factual dan obyektif kepada publik/masyarakat tidak kalah penting dengan profesi bidang lainnya. (Dirgahayu Hari Pers Nasional, 9 Pebruari 2026, semoga para awak media, wartawan/jurnalis, dimanapun berada selalu sehat tetap semangat dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa).




