Jakarta | mediasinarpagigroup.com – Kecemasan warga sekitar serta warga perumahan elit JGC ( Jakarta Garden City) akan kehadiran RDF. (Refuse Derived Fuel, ) Rorotan semakin hari semakin geram. Pasalnya pengelolaan sampah yang di klaim terbesar di Indonesia dan modern tersebut ternyata menimbulkan polusi dan bau menyengat, sehingga warga sekitartidak nyaman.
“Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dianggap warga sekitar pengecut tidak hadir dalam sosialisasi Pengelolaan RDF Rorotanjumat, (21/25) untuk menjawab kegelisahan warga atas dampak polusi dan bau menyengat yang di rasakan warga sekitar serta warga JGC yangakan melakukan aksi apabila tidak mampu menjamin dampak yang dirasakan warga tidak terjadi lagi.”
Hadir dalam Sosialisasi tersebut Camat Cakung Lurah dan sejumlah perwakilan warga baik dari komplek elit JGC Jakarta Timur dan warga Rorotan Jakarta Utara.
Sosialisasi yang di pandu oleh Agung Pujo Winarko selaku yang bertanggung jawab atas pengelolaan RDF Rorotan dari Dinas Lingkungan Hidup awalnya berjalan lancar , namun seiring selang beberapa menit suasana mulai gaduh dengan sejumlah usulan sanggahan dari warga, Namun demikian agung tetap meyakin kan bahwa materi yang di sampaikan akan memberikan pencerahan sehingga warga mengerti apa itu RDF..
“Memasuki fase penyampaian materi yang mulai menjenuhkan salah seorang warga JGC mengingatkan Agung yang melakukan sosialisasi bahwa warga hadir bukan orang yang mau mencari kerja, kami kesini untuk mencari solusi agar kehadiran RDF ini tidak bau dan menjadi polusi udara Ungkapnya.”
Tentang apa itu RDF kami sedikitnya paham jadi gak perlu lagi di jelaskan detail macam ini, yang kami ingin kan saat ini ada komitmen dan garansi serta kesepakatan tertulis manakala ada bau yang mengganggu kenyaman warga dan penyakit yang diakibatkan pengelolaan RDF Rorotan ini akan ditutup, ujar perwakilan warga.

“Sementara ketua RT 18 Rorotan menyampaikan, yang kami inginkan tidak ada pencemaran tidak ada bau dan tentunya sama pak lurah pak camat juga mengharapkan seperti ini. Apabila masih ada pencemaran dan bau maka RDF Rorotan segera ditutup. Untuk itu segera Dinas Lingkungan Hidup dan warga sekitar laKukan komitmen serta perjanjian tertulis, tegas ketua RT 18.”
Sementara salah seorang ibu dari peserta yang hadir menyampaikan kecemasannya, kita menghadapi kaya gini bukan sekarang aja dari tahun 2018 kita was was dengan pembakaran sampah yang mengakibatkan saya masuk IGD. Kita sudah lapor sana sini, namun terus terulang sekarang di tambah lagi emosi kemarahan kami memuncak tampa sosialisasi tau- tau muncul RDF Rorotan ini, tentunya menambah penderitaan kami, ujarnya dengan suara lantang.
Di tengah keprihatinan dan keluh kesah warga yang terdampak polusi RDF dalam sosialisasi tersebut dapat perhatian serius dari tokoh muda Jakarta Utara, yang ternyata hadir bersama warga dalam sosialisasi tersebut Juharto Harianja, SH selaku advokat yang di kenal lugas membela hak – hak masyarakat kecil.
Dalam penyampaian di forum tersebut Juharto memberikan semangat kepada warga sekitar dan warga JGC bahwa saudra saudra tidak sendiri kami dari sejumlah elemen yang ada di Jakarta Utara siap mengawal ini . Ungkapnya tegas .
Juharto menambahkan, kita punya contoh di Koja akibat penataan depo – depo kontener yang tidak sesuai zona hingga bnyak terjadi yang merugikan warga kita gugat Pelindo II dan sekarang mulai ada penataan penertertiban.
Terkait pengelolaan RDF Rorotan ini tidak menutup kemungkinan banyak warga yang cemas warga yang diabaikan kami, akan bergerak, kami akan bersama masyarakat melakukan gugatan. RDF ini dibangun bukan uang kecil lebih dari satu Triliun Pemkot DKJ anggarkan, untuk itu masyarakyat harus kritis, jangan sampai uang yang bersumber dari pajak masyarakat malah menjadi keresahan bagi masyarakat itu sendiri, ujar Juharto. (Rbn)




