Surabaya | mediasinarpagigroup.com – Negeri tercinta Indonesia kita ini kaya akan organisasi, penuh semangat advokasi, kadang publik dibuat bingung mana yang benar-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan mana yang sekadar memperjuangkan kepentingan sendiri. Fenomena ini bukan cerita baru, beberapa kalangan mulai menyoroti praktik segelintir oknum memanfaatkan label LSM, Ormas, bahkan profesi wartawan untuk kepentingan kelompok tertentu atau golongan.
Dalam kesempatan ini aktivis ’98 Eko Gagak mengatakan, “secara tegas kami kritik, secara terang-terangan!” terkait adanya kecenderungan organisasi dijadikan “kendaraan” bukan “pengabdian”. Ada yang membawa nama LSM atau Ormas, tapi yang diperjuangkan justru kepentingan pribadi, golongan dan kelompoknya,” ujarnya.
Dalam lanskap semakin riuh, publik seakan disuguhi tontonan baru: rapat-rapat serius, grup WhatsApp yang ramai, hingga diskusi terlihat idealis namun kadang berujung pada agenda yang sulit dijelaskan ke masyarakat luas, dan lebih menarik ketika profesi wartawan ikut terseret dalam pusaran tersebut. Bukan sebagai pengawas, melainkan diduga sebagai bagian dari arus yang sama dan wartawan seharusnya menjaga independensi, bukan ikut terlibat dalam kepentingan tertentu,” tukasnya.
Di titik ini, batas antara pengawas dan pelaku menjadi kabur. Padahal dalam teori sederhana, wartawan menulis bukan ditulis. Mengawasi bukan diawasi oleh kepentingan. Masih kata Eko Gagak: fenomena ini tentu tidak bisa digeneralisasi, banyak LSM, Ormas, dan wartawan atau jurnalis yang tetap bekerja sesuai fungsi dan etika. Namun, kehadiran oknum-oknum seperti ini cukup membuat kepercayaan publik goyah. Organisasi dan profesi ini bukan milik pribadi, ada tanggung jawab moral harus benar-benar dijaga,” tandasnya.
Lanjut Eko Gagak, “pada akhirnya publik hanya bisa berharap satu hal sederhana, yakni,” label “pengaku aktivis”, “LSM”, “Ormas”, atau “wartawan” tidak sekadar menjadi atribut, tetapi benar-benar dijalankan sesuai makna. Karena, ketika semua orang mengaku berjuang untuk rakyat dan pertanyaan berikutnya menjadi penting adalah rakyat yang mana?” pungkasnya.(Ris)




