Purwokerto | mediasinarpagigroup.com – Aku memang tak seindah tanaman hias sejajar dengan tanaman hias lainnya yang berbunga, seperti bunga anggrek, bougenville, flamboyan, secantik bunga wijaya kusuma, amarilis, dahlia, dan semanis bunga mawar, melati, teratai atau sedap malam dan lainnya.
Tapi aku sama sekali tak merasa kecewa, berkecil hati atau menyesali bentuk fisikku dengan dahan ranting berdaun hijau.
Karena ini merupakan hasil karya besar yang telah diciptakan sang penguasa alam semesta, untuk menghiasi panorama diatas persada bumi seisinya., Sehingga aku tak perlu risau dan bersedih hati.
Mayoritas penggemar atau pencinta tanaman hias adalah kaum wanita atau selebritis papan atas atau menengah, menyebut namaku montera, tapi ada juga yang menyukai nama monteria, karena nama hanya merupakan identitas, meski kadang juga memiliki arti dan makna yang yang dapat menarik simpati penggemarnya dan menilai sebuah nama juga memiliki daya tarik, pesona dan bahkan power.
Sebagai salah satu mahluk tumbuh-tumbuhan yang tidak mengetahui dan memahami sejarah asal mula kelahiranku dari kampung atau negeri mana dan siapa yang memberi nama montera atau monteria, aku terima dengan ikhlas dan berusaha untuk tetap ceria dan bersyukur. Karena saat ini aku tumbuh dalam sebuah pot hitam kecil, yang menghiasi kamar seorang gadis cantik dan baik, yang masih belajar menuntut ilmu disebuah perguruan tinggi negeri dikota satria, Jawa-Tengah.
Meski aku tak mampu berkomunikasi mengungkapkan perasaan suka karena telah berkenan memajang dan menemani dalam kamar belajarnya, tapi diam-diam aku selalu berdoa semoga pelajar cantik dan baik hati yang hampir selesai menyelesaikan semester akhir universitas ini dapat mencapai cita-citanya, dan kelak dapat mengamalkan ilmu yang telah ditekuni dibalik tembok kampus perguruan tinggi negeri kepada masyarakat, bangsa dan negara. (Kota Satria, medio pebruari 2026).




