Purwokerto | mediasinarpagigroup.com – Para pemerhati lingkungan sosial kemasyarakatan mengungkapkan, ada 3 hal perbuatan manusia yang sangat dimurkai oleh Tuhan YME. Pertama, orang yang tidak mau bersyukur. Kedua, orang yang suka/selalu menyalahkan orang lain, dan orang yang merasa dirinya selalu paling benar. Ketiga, adalah orang yang suka/selalu marah-marah.
Diungkapkan, orang yang tidak mau bersyukur, identik dengan orang yang kufur, yang mengungkari terhadap pemberian dan nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan, yaitu nikmat sehat, nikmat rejeqi, nikmat waktu dan kesempatan, serta nikmat-nikmat lain.nya. Kedua, orang yang selalu menyalahkan orang lain dan merasa dirinya paling benar, identik dengan taqabur atau orang yang sombong, seolah-olah dirinya yang selalu benar dan merasa dirinya paling pandai, padahal orang bijak mengatakan, tidak ada orang yang pandai dan bodoh, yang ada adalah orang yang sudah tahu dan belum tahu, serta setiap orang memiliki kemampuan/keahlian yang berbeda-beda.
Lebih jauh diungkapkan, bahwa sifat sombong atau taqabur ini adalah merupakan asesoris/selendangnya Tuhan, sehingga barang siapa yang berani memakai/menggunakannya, maka orang tersebut akan dimurkai dan berhadapan dengan Tuhan dan menerima hukuman.
Ada 3 penyebab orang menjadi sombong/takabur. Pertama, karena hartanya alias kekayaannya yang melimpah. Kedua, karena jabatan dan kekuasaan yang dimiliki. Ketiga, karena ilmunya yakni status sosial seperti gelar kebangsawanan dan keturunan serta gelar akademik hingga gelar kehormatan lainnya. Sedangkan yang ketiga, orang yang suka marah-marah, identik dengan orang yang tidak punya kesabaran, padahal untuk mengatasi berbagai masalah kunci yang pertama/utama harus dengan kesabaran yang merupakan sumber kekuatan untuk bisa mengatasi masalah.
Orang yang mudah/suka marah-marah sampai berteriak-teriak, diibaratkan air yang beriak tanda tak dalam, sedangkan orang yang sabar mengatasi masalah, ibarat air tenang yang dalam tapi dapat menenggelamkan/menghanyutkan.
Agar warga masyarakat yang terdiri dari berbagai heterogen, status sosial yang berbeda-beda, tapi tetap dapat bergaul, berdampingan, bersilaturahmi, saling menghormati, tidak saling merendahkan satu sama lain, para pakar agama dan orang-orang bijak senantiasa mengingatkan agar kita tetap menjaga iman, ucapan-ucapan dan perbuatan serta perilaku yang baik, tidak menyinggung perasaan serta menyakiti hati orang lain, teman apalagi saudara kita yang mungkin hidupnya kurang beruntung, serba kekurangan.
Kalau kita tidak membantu, jangan sampai kita mengejek dan menghina, apa lagi didalam bulan puasa romadhon, bulan suci yang penuh dengan baroqah saat yang terbaik untuk memohon pengampunan kepada Tuhan YME, karena tidak ada manusia yang sempurna, yang tidak pernah berbuat salah atau dosa, sengaja atau tidak sengaja, sehingga setelah berpuasa sebulan penuh tidak makan dan minum disiang hari untuk selalu bersabar menahan rasa lapar dan haus akan menjadikan manusia/kita yang menjalani menjadikan iman kita semakin bertambah kepada Tuhan, demikian juga rasa cinta kita kepada sesama manusia semakin tumbuh menjadi besar untuk saling menyayangi dan mengasihi, sehingga mau berbagi kasih untuk memberi kepada kaum fakir-miskin, anak-anak yatim dan piatu serta kaum duafa lainnya, membantu/memberi dengan ikhlas maupun melalui aktifitas zakat dan fitrah yang dikelola oleh panitia/tamir masjid.(Akhir Pebruari 2026).




