Purwokerto | mediasinarpagigroup.com – Apa bila kita amati perjalanan waktu yg terus bergulir, ditandai dengan sering terjadi bencana alam yang tersebar diberbagai daerah hingga kepeloksok negeri nusantara, bahkan diberbagai manca-negara tahun-tahun belakangan ini mengingatkan pada apa yang sering diucapkan oleh para leluhur/nenek moyang kita, bahwa apakah ini merupakan pertanda ramalan Jaya-Baya yang pernah diucapkan oleh Pujangga besar Keraton Surakarta, R. Ngabehi Ronggowarsito itu, apakah kini telah sampai pada saatnya, bahwa sekaranglah saatnya jaman edan yang diramalkan itu?
Terbukti sekarang banyak orang seperti kacang lupa sama kulitnya, identik lupa sama asal usulnya, menjadi lupa diri, sombong/taqabur, tamak, rakus, egois dan mementingkan diri sendiri, tega mencelakakan/memfitnah orang lain, dan bahkan teman atau saudara sendiri.
Contoh nyata ada majikan yang tega menyiksa asisten rumah tangga hingga diluar batas gara-gara masalah sepele, juga adanya pengajar dari pendidikan formal yang menghukum siswanya kelewat berat hingga tewas, dan lain-lain, yang mencorengi citra hukum di negeri ini menjadi tidak sehat karena bisa direkayasa, yang benar bisa disalahkan dan pihak yang salah bisa dibenarkan, tumpul keatas dan tajam kebawah.
Akibat dari seringnya musibah bencana alam seperti gempa, tsunami, banjir bandang, lumpur lapindo di Jawa-timur, hingga terjadinya kasus penyakit menular yang mengerikan yang telah merenggut ribuan nyawa melayang sia-sia belum lama ini yaitu covid 19 telah mengakibatkan perekonomian nasional kian terpuruk, jumlah penduduk miskin kian meningkat pesat. Masalah kemiskinan ini memang merupakan tantangan berat yang harus dihadapi bersama warga masyarakat, tapi juga harus diatasi sendiri oleh setiap individu manusia.
Tercatat sebelum terjadinya covid 19 saja ada 35,7 juta jiwa manusia Indonesia (17 %) dari 212.938.083 jiwa penduduk masih hidup dibawah garis kemiskinan atau sekitar 20.000 desa yang termasuk kategori miskin dari seluruh desa di negeri kita ini yang berjumlah 65.554 desa.
Kemiskinan memang merupakan realitas sosial ditengah masyarakat yang berskala tak terbatas, tidak saja mengungkapkan kemiskinan harta, papan dan sandang, tetapi juga kemiskinan dalam bidang skill/ketrampilan, pengetahuan, tekhnologi dan sebagainya.
Kemiskinan juga dapat ditinjau dari beberapa indikator, seperti adanya ketimpangan produktifitas dan aktifitas managemen pembangunan disamping perilaku individu masyarakat.
Menurut catatan jurnalistik di Sumatra dan Jawa tercatat paling banyak memiliki desa miskin, yaitu 6.762 desa di Sumatra dan 6.000 desa di Jawa, di Jawa tengah sendiri masih terdapat 2.439 desa miskin dari 8.495 desa yang ada di Jawa Tengah.
Dan di Yogyakarta yang berpenduduk lebih dari 30 juta orang, sedang yang termasuk kategori miskin tercatat 4,23 juta orang lebih, dan di Banyumas pernah mencapai 530.323 lebih.
Kemiskinan yang berdampak pada kesulitan ekonomi masyarakat akan dapat mengakibatkan timbulnya kerawanan sosial yang merugikan banyak pihak.
Pemerintah pernah berjanji bahwa arah dan hasil pembangunan akan diprioritaskan ke masyarakat muskin, tapi kenyataannya hasil pembangunan hanya jadi tontonan masyarakat miskin. Dibangunnya jalan-jalan dan pasar raya/mall, tempat rekreasi hiburan, instansi pendidikan dan lainnya, hampir tidak mungkin dinikmati rakyat miskin, bahkan kehidupannya semakin tersungkur dan tergusur, mencari mata pencaharian semakin sulit.
Kemiskinan yang mayoritas dialami rakyat kecil merupakan dampak bergulirnya era globalisasi sejak terjadinya krisis moneter yang berkepanjangan puluhan tahun lalu, terasa menjadi beban berat menghadapi kenyataan berbagai harga kebutuhan pokok sembako yang terus melambung dan biaya pendidikan/sekolah terus meningkat tanpa diimbangi denga kenaikan gajih/upah kerja yang memadai, sehingga membuat dada para orang tua semakin sesak.
Meningkatnya angka kemiskinan bisa dilihat dari jumlah pengiriman angka TKI ke negara tetanhga, serta akibat terjadinya PHK yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta terhadap para pegawai/karyawan, serta dampak seringnya terjadi musibah bencana alam dan meningkatnya kasus-kasus kriminal kejahatan, penipuan, serta kasus/insiden lainnya yang sangat menyedihkan.
Mana mungkin program menurunkan angka kemiskinan dapat terealisasi, bila para pemimpin dinegeri ini tidak komit dan konsisten untuk mengayomi rakyat alias wong cilik yang hidupnya masih banyak berada dibawah garis kemiskinan. Bahkan masih banyak para pemimpin yang bersikap egosentris, kurang peka terhadap kondisi sosial ekonomi yang semakin memprihatinkan, sehingga terjesan masa bodo dan tidak perduli, pura-pura tidak tahu atau sengaja menutup mata dan telinga. (Purwokerto, 5 April 2026/Dari berbagai sumber refrensi).




