Koto Sani | mediasinarpagiugroup.com – Sebanyak 20 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas Padang yang tengah melaksanakan pengabdian di Nagari Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, menyaksikan secara langsung pertunjukan kesenian tradisional Minangkabau: Randai ILAU. Pertunjukan ini digelar oleh Grup Randai Limo Sati di Jorong Limo Niniak, setiap malam Sabtu.
Mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas dan jurusan ini akan berada selama 43 hari di Nagari Koto Sani. Mereka mengusung tujuh program utama, salah satunya adalah publikasi budaya, sebagai bentuk nyata kontribusi dalam melestarikan nilai-nilai lokal yang kian tergerus arus modernitas.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa tidak sekadar menonton, namun juga berinteraksi langsung dengan pelaku seni dan tokoh adat. Ketua kelompok KKN, Fajriatul Fuadi dari Fakultas Pertanian jurusan Agribisnis, memimpin kunjungan tersebut bersama seluruh anggota tim.
Mahasiswi dari Fakultas Ilmu Budaya, Shendy Aulia Verly (Sastra Indonesia) dan Asra Sofia (Ilmu Sejarah), mengungkapkan rasa kagum mereka terhadap kekayaan budaya yang tersaji dalam pertunjukan Randai ILAU. “Ini bukan sekadar tontonan, tapi cermin dari kearifan lokal yang mengajarkan nilai gotong royong, solidaritas, dan ekspresi jiwa,” ujar mereka kepada awak media Sinar Pagi Group.
Menurut penuturan mereka, kesenian Randai ILAU memiliki makna mendalam. Kata “Ilau” sendiri bermakna rintihan duka, ratapan pilu yang diekspresikan lewat gerak dan syair. Dalam Randai, narasi kehidupan disampaikan melalui gabungan seni tari, silat, nyanyian, dan musik tradisional seperti gendang, saluang, dan talempong genggam. Ada dua belas gerakan khas yang menggambarkan perjalanan emosi dan penderitaan, menjadikan Randai ILAU sangat menggugah bagi penonton.
Tokoh adat setempat, Bukhari Dt. Bungsu, menjelaskan bahwa Randai ILAU merupakan bentuk kesenian sakral yang biasa dipentaskan dalam acara adat penting seperti batagak penghulu, pernikahan, khitanan, hingga upacara pemerintahan baik di dalam maupun luar nagari. “ILAU itu artinya meronta sembari menangis, mengungkapkan kesedihan mendalam dari kisah yang dituturkan,” jelasnya.
Grup Limo Sati menjadi penjaga napas budaya ini. Dengan anggota lintas generasi, mereka membuktikan bahwa warisan budaya tak harus kalah oleh zaman. “Randai ini tak lapuak dek hujan, tak langang dek paneh,” tuturnya, mengutip pepatah Minang yang berarti budaya ini tidak akan pernah pudar oleh perubahan.
Harapan pun mengalir—agar generasi muda di era serba digital ini tetap mencintai dan menjaga seni budaya lokal. Randai ILAU bukan hanya pertunjukan, melainkan bahasa jiwa dan jati diri masyarakat Nagari Koto Sani yang harus terus hidup sepanjang masa.(Defrizal)