Banyumas | mediasinarpagigroup.com – Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Pers Nasional, 9 Februari 2026, para wartawan/jurnalis daerah Banyumas yang tergabung dalam komunitas group online Banyumas Raya, Jawa Tengah telah menyelenggarakan acara silaturahmi temu muka dan tukar menukar informasi dan pengalaman masing atau bahasa tradisional jawa gendu-gendu rasa, saling mengungkapkan perasaan suka-duka/pahit getirnya menjadi wartawan yang punya tugas pokok untuk mencari dan menyampaikan informasi yang aktual, faktual dan obyektif kepada masyarakat luas melalui media cetak/online masing-masing yang berbeda-beda.
Menurut Admin group Banyumas Raya saat menyampaikan sambutan pembukaan acara yang berlangsung lancar dan familiar namun sangat sederhana di base-camp group media online Banyumas Raya di jalan Gerilya Timur, Purwokerto, dari belasan anggota group yang diundang, tapi tidak semua bisa hadir karena kemungkinan masing-masing punya kesibukan/acara liputan yang lebih penting. Diungkapkan oleh Admin group online Banyumas Raya, Rahayu AMd
Eksistensi group jurnalis Banyumas Raya online yang sudah tiga tahun berkiprah melaksanakan aktifitas bersama oleh para anggotanya untuk mengadakan pertemuan rutin setiap empat bulan sekali juga punya program sosial untuk mengunjungi rekan wartawan yang sudah purna tugas, serta acara silaturahmi halal bihalal saling memaafkan antar para anggota pada hari raya lebaran Idul Fitri. Usai acara temu wicara/gendu-gendu rasa, kemudian dilakukan acara pemotongan nasi tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME, dilanjutkan dengan makan siang bersama para wartawan Group Banyumas Raya online yang hadir.
Menurut seorang pemerhati lingkungan sosial kemasyarakatan yang enggan disebut jati dirinya dan tinggal dikota Purwokerto, Jawa Tengah, profesi dokter, pengacara, guru, seniman, wartawan/jurnalis termasuk noble oficium/profesi luhur yang altruistis punya sikap dan sifat untuk mengabdi demi kemanusiaan, sehingga punya nilai di masyarakat.
“Jadi wartawan harus seperti itu, supaya profesional harus berpedoman pada agama”, katanya. Ditambahkan, wartawan tentu saja harus memiliki pengetahuan (knowledge), skill kwtrampilan menulis berita, komunikatif pandai bicara dan bergaul), tapi juga beretika (kepribadian yang baik) serta akhlak yang baik.
Lebih jauh diungkapkan, wartawan yang bertugas sebagai pencari dan penyebar informasi memiliki posisi strategis sebagai political infrastruktur, alat kontrol sosial. Sesuai dengan fungsi dan tugasnya, wartawan tidak perlu takut untuk menyampaikan kritik sosial yang positif dan konstruktif/membangun, bahkan membuka kedok atau kebobrokan sepanjang itu bukan fitnah.
Sebagai noble oficium profesi luhur untuk menyampaikan berbagai informasi aktual dan factual (hangat dan nyata), sehingga wartawan dituntut untuk mengembangkan skill secara kontinyu atau personal improvmen.
“Belajar juga tidak harus secara formal, secara informal juga bisa, melalui jalur non-formal otodidak secara mandiri dengan membaca buku-buku yang bermanfaat menambah wawasan. Yang perlu dicatat, wartawan/jurnalis harus memiliki sifat altruistis bermakna dan berguna bagi kemanusiaan/orang lain. (Widoyo Satmoko).




