Jawa Timur | mediasinarpagigroup.com – Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin negara sekecil Belanda, yang luas daratannya bahkan tidak lebih besar dari Provinsi Jawa Barat, bisa mencengkeram kepulauan seluas Indonesia selama tiga setengah abad? Jawabannya bukan semata-mata karena kecanggihan senjata mereka, melainkan karena sebuah penyakit lama yang bernama pengkhianatan.
Sejarah mencatat bahwa perlawanan kita sering kali runtuh bukan oleh serangan frontal musuh, melainkan oleh tikaman dari saudara sendiri yang tergiur oleh kuasa dan harta.
Belanda sangat ahli dalam memanfaatkan konflik internal antar kerajaan di Nusantara. Mereka tidak perlu mengirim ribuan tentara; mereka hanya perlu mendukung salah satu pihak untuk menghancurkan pihak lainnya.
Gambar ini berbicara ribuan kata. Satu sosok asing bisa berdiri tegak karena di sekelilingnya ada orang-orang pribumi pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda yang rela menjual kedaulatan bangsanya demi jabatan, tanah, atau emas.
Kurangnya rasa persatuan membuat perjuangan kita bersifat kedaerahan. Saat satu daerah berjuang, daerah lain justru membantu penjajah karena janji-janji manis yang mematikan.
Sejarah ini adalah cermin bagi kita hari ini. Ancaman terbesar bagi kedaulatan sebuah bangsa bukan selalu datang dari luar, melainkan dari dalam, dari mereka yang rela mengorbankan kepentingan rakyat demi keuntungan pribadi.(Ris)




