Banyumas | mediasinarpagigroup.com – Selalu saja ada rasa rindu pada kekasih yang pernah bersemayam dalam hati, saat kelima jemariku berpencar memetik senar-senar gitar yang dulu kubeli dipasar Johar, saat masih remaja dibayangi oleh impian, khayalan dan kenangan indah nan mengesankan, disela-sela suka-dukanya kehidupan, diantara pedih-perihnya kenyataan, yang datang silih berganti, seperti siang nan terang, malam yang kelam, saling beriringan.
Seperti ada rasa sesal yang menyesak didada, manakala ingatanku melayang kemasa silam, bayanganku berenang dikota Semarang, barangkali karena garis kehidupan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta, agar kita pandai bersabar, bersyukur dan tetap berikhtiar, dalam situasi dan kondisi apapun, tak harus lari dari kenyataan, tapi hadapi dengan keteguhan iman dan hati yang lapang.
Dari sinilah awal pergulatan supranatural ini kutelusuri, dalam proses edukasi untuk mencapai pintu cahaya illahi yang bersinar terang, atau tetap tenggelam dalam kegelapan dialam kelam tanpa disinari cahaya penerang.
Sementara untuk mencapai status sosial intelektual, harus melewati uji kompetisi dan kompetensi, lolos dari intimidasi serta lulus dari seleksi intelgensi awal hingga akhir.
Ternyata semua ibarat mimpi, kisah semu, sebuah ilusi, yang tiada abadi dan tak pernah berhenti. (Goresan hati, medio Januari 2026).




