Purwokerto | mediasinarpagigroup.com – Sejarah mencatat, salah satu upaya untuk menunjukan bangsa, diantaranya adalah partisipasi untuk berkonsentrasi focus perhatiannya pada perkembangan dunia seni, sastra dan budaya, meski dalam setiap gerak dan langkahnya tidak semudah seperti membalikan telapak tangan, alias tidak pernah mengalami perjalanan yang mulus.
Berbagai kendala selalu datang silih berganti, hinga perkembangannya jadi tersendat dan terasa begitu lamban, ibarat jalan ditempat, manakala kebutuhan dari keseluruhan sistem yang ada sudah beranjak modern dan progresif. Sementara norma tata nilai dari perilaku masyarakat tertentu masih serba tradisional dan konvensional.
Hal ini akan mengkhawatirkan angkatan atau generasi berikutnya, hingga kehilangan arah dan tujuan dalam mengekspresikan berbagai aktifitas dan kreatifitasnya dalam kiprahnya diatas panggung kebudayaan.
Dasar kekhawatiran mereka adalah karena timbulnya perubahan cara berpikir, bertingkah laku serta kenyataan menghadapi merajalelanya krisis akhlak ataupun tekhnologi canggih yang berkembang pesat serta kemungkinan mampu menggeser posisi maupun eksistensi seni dan budaya. Bukan menjadi sarana pendukung tapi malah menjadi penghambat sebagai tantangan yang maha berat.
Dari arena kesusasteraan pandangan dan tanggapan itu berjalan sesuai dengan kodrat yang dapat berpengaruh dalam dimensi ruang dan waktu yang lapang. Ini jawaban yang relevan dari generasi berikutnya kepada dunia tekhnik dalam memberi warna bagi kehidupan norma kebudayaan yang selaras dengan negeri kita.
Apa yang berlaku dan berkembang dari sebagian generasi kadang tak lepas dari pembawaan yang bersifat eksperimental. Tiap-tiap generasi dalam pengalaman khasanah kesusasteraan hendak memberi suatu warna atau manifestasi jiwa yang lepas dan bangkit sesuai dengan perhitungan waktu dan zaman. Tetapi tanggapan tersebut oleh generasi terdahulu jangan dijadikan alasan adanya suatu kesenjangan dengan pandangan mereka. Betapapun kriteria yang diberikan bukan merupakan kendala dalam menelusuri perkembangan budaya yang jelas arah dan tujuannya.
Sementara kesusasteraan enggan dalam menerima semua unsur yang tak mampu memberi nilai-nilai moral. Oleh para penganutnya atau peminat kesusasteraan maupun kebudayaan pada umumnya hanya merupakan tempat pelarian dari adanya perasaan kecewa atau ketidak puasan dari suatu kegelisahan akibat kegagalan dalam mengekspresikan harapan-harapan yang didambakan dalam berbagai bidang aktifitas lainnya. Tapi parasit kesusasteraan model temporer begini memang biasanya tak akan tahan lama serta tak bisa melangkah dengan baik. Bahkan oleh para pemerhati, kaum temporer ini dianggap merupakan kendala bagi sebuah perjalanan dalam sejarah kesusasteraan/kebudayaan. Seandainya originalitas kesenian jadi berkurang dari suatu paham aliran, ujung-ujungnya hanyalah menghambat dan bahkan dapat merusak perjalanan dan perkembangan dunia kesenian saja. Bukan menambah keleluasaan/kenetralan para seniman dalam mengekspresikan karya-karya kreatifitasnya dalam mencipta. Sebaliknya malah dapat mempengaruhi alam pikiran masyarakat mayoritas pada umumnya. Akibatnya dapat menciptakan persilangan pendapat sebagai persaingan dalam berkarya.
Kemudian bagaimana tugas sastra sebenarnya ditengah pergaulan masyarakat luas menggelindingkan ide-ide yang tertuang melalui karya dan kreatifitasnya, ternyata telah banyak diabaikan dan bahkan dilupakan.
Sebagai suatu karya yang tinggi, kesusasteraan itu idealnya menggali nilai-nilai kemanusiaan dan moral yang tinggi. Itupun bila diukur dari sudut penilaian yang sejajar pula.
Pengertian atau pemahaman masyarakat marginal memang sangat terbatas, bahkan jauh sebelum terjadi pecah revolusi, nasib kesusasteraan telah merasa tergeser eksistensinya kesamping. Bukan soal istimewa kalau suatu aliran atau paham tertentu sudah lebih cepat sangat meresap dan meluas daripada pengertian tentang sastra.
Sebaliknya pengertian kebudayaan hanya dimiliki oleh mayoritas kalangan menengah. Pengaruh budaya asing mayoritas lebih banyak diterima atau dipercaya dari yang praktis saja sifatnya, seperti dalam ekonominya dan hasilnya karya tekhnik kurang berkualitas. Sementara lonceng kematian semangat berkesenian dalam menapaki jejak keluar, digambarkan ibarat seekor siput yang berlari terseok-seok teramat lamban, berputar-putar dalam lingkaran gelap, mengajak penerimaan nasib pada kepasrahan menjadi kurang etis, sebagai bangsa yang pesimis padahal berpotensi tinggi.
Bagi para peminat sastra tempo dulu, siapa yang tak kenal nama besar Prof. Hamka, HB. Jasin dan Soebagyo Sastro Wardoyo, penyair WS Rendra, Taufiq Ismail, Soetardji Kalsum Bachri, Goenawan Mohamad, Butet, Yudhistira Ardi Nugraha, novelis Ashadi Siregar, Motinggo Busye, NH. Dini, Ahmad Tohari, komikus Ganes TH, RA. Kosasih, penulis cerita silat Asmaraman alias Ani Asmara, Kho Ping Hoo, Herman Praktikto, SH. Mintardja dan lain-lain yang mereka semua telah ikut berjuang keras mewarnai dan memperkaya khasanah kesusasteraan dinegeri kita dengan gaya, bahasa, edukasi dan karya cipta yang memiliki kualitas berbeda-beda.
Disaat negeri yang telah mengalami berbagai macam cobaan, ujian dan berbagai nacam musibah bencana aldm, termasuk wabah penyakit yang mengerikan, yakni covid 19, selain konflik politik, sosial, ekonomi, krismon, krisis kepemimpinan dan persaingan bisnis yang begitu tajam hingga mempengaruhi semangat persatuan dan kesatuan telah menggoncangjan dan menggoyahkan setiap desah maupun aktivitas kesenian bergulir mewarnai sastra dan budaya kita.
Diera pasca reformasi kembali dunia sastra budaya kita benar-benar memikul batu ujian yang maha berat. Ibarat perjalanan yang panjang diatas altar seni, budaya dan sastra yang tak pernah sampai kebatas endingnya, hanya mengarah ketengah-tengah persimpangan koridor yang terjal, identik penuh onak dan duri. Tetapi masyarakat berharap agar para pelaku seni dan budaya tetap kreatif berkarya tidak patah semangat. Semoga.(Kota satria, 23 Mei 2026 / disarikan dari berbagai sumber dan refrensi).




