Sabtu, Mei 2, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Daerah
  • Investigasi
  • Luar Negeri
  • News
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Daerah
  • Investigasi
  • Luar Negeri
  • News
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Peristiwa

May Day 2026, Lemahnya Pengawasan Pemda Terhadap Implementasi Regulasi Ketenagakerjaan

media sinar pagi group by media sinar pagi group
Mei 1, 2026
in Peristiwa
0
May Day 2026, Lemahnya Pengawasan Pemda Terhadap Implementasi Regulasi Ketenagakerjaan
0
SHARES
51
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta | mediasinarpagigroup.com – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 tidak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi berubah menjadi panggung kritik terbuka terhadap pemerintah pusat maupun daerah. Ribuan buruh memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), membawa tuntutan yang semakin tajam terkait stagnasi kesejahteraan, lemahnya perlindungan tenaga kerja, serta inkonsistensi kebijakan ketenagakerjaan, Jumat (1/5/2026).

Pantauan di lapangan oleh wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) menunjukkan bahwa lonjakan massa di Monas merefleksikan akumulasi kekecewaan yang tidak lagi terbendung. Di tengah klaim pertumbuhan ekonomi nasional, buruh justru mempertanyakan distribusi kesejahteraan yang dinilai belum menyentuh lapisan pekerja secara adil.

RELATED POSTS

Polwan Polres Simalungun Bagikan Roti Ulang Tahun Kepada Ibu-ibu Buruh, Warnai Perayaan May Day 2026 Yang Meriah Dan Kondusif

Peringatan May Day 2026 Di Kabupaten Simalungun, Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja

Aktivis 1998, akrab di panggil Eko Gagak, secara tegas mengkritik arah kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak pada buruh.

“Negara tidak boleh terus berlindung di balik angka pertumbuhan ekonomi, sementara realitas di lapangan menunjukkan buruh masih berjuang untuk hidup layak. Ini bukan sekadar soal upah, tetapi soal keberpihakan,” tegasnya saat memberikan keterangan kepada MSRI.

Eko juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah daerah terhadap implementasi regulasi ketenagakerjaan. Menurutnya, banyak pelanggaran yang terjadi di tingkat lokal namun minim penindakan tegas.

“Pemerintah pusat membuat aturan, tapi pemerintah daerah sering kali gagal memastikan pelaksanaannya. Di sinilah letak persoalan serius ketika hukum tidak hadir secara nyata di ruang kerja buruh,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua SPSI Surabaya, Sunowo, menegaskan bahwa buruh tidak menolak investasi, namun menolak jika pertumbuhan ekonomi dibangun di atas ketimpangan.

“Kami melihat ada kecenderungan kebijakan yang lebih mengakomodasi kepentingan investasi, tetapi mengabaikan perlindungan buruh. Pemerintah pusat harus berani mengevaluasi kebijakan yang tidak berpihak, sementara pemerintah daerah wajib hadir sebagai pengawas, bukan sekadar pelengkap administratif,” ujar Sunowo saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI.

Ia juga mengkritik lemahnya dialog sosial yang substantif antara pemerintah, pengusaha, dan buruh. “Selama komunikasi hanya bersifat formalitas, maka konflik akan terus berulang. Buruh butuh kepastian, bukan janji,” tambahnya.

Dalam konteks sejarah, perjuangan buruh Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sosok Marsinah, yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Kasus kematiannya pada 1993 hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar, sekaligus menjadi cermin bahwa negara pernah, dan bisa saja kembali gagal melindungi warganya sendiri.

Semangat Marsinah kembali digaungkan dalam May Day tahun ini sebagai pengingat bahwa perjuangan buruh bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang keberanian melawan ketidakadilan struktural.

May Day 2026 dengan demikian menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat dan daerah. Ketika tuntutan terus berulang dari tahun ke tahun tanpa solusi konkret, publik berhak mempertanyakan keseriusan negara dalam menempatkan buruh sebagai pilar utama pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka jarak antara narasi pertumbuhan dan realitas kesejahteraan akan semakin melebar dan pada titik itulah, kepercayaan publik dipertaruhkan.(Ris)

ShareTweetSendShareScan
media sinar pagi group

media sinar pagi group

Related Posts

Polwan Polres Simalungun Bagikan Roti Ulang Tahun Kepada Ibu-ibu Buruh, Warnai Perayaan May Day 2026 Yang Meriah Dan Kondusif

Polwan Polres Simalungun Bagikan Roti Ulang Tahun Kepada Ibu-ibu Buruh, Warnai Perayaan May Day 2026 Yang Meriah Dan Kondusif

Mei 1, 2026
Peringatan May Day 2026 Di Kabupaten Simalungun, Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja

Peringatan May Day 2026 Di Kabupaten Simalungun, Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja

Mei 1, 2026
Beri Pengawalan Sejak Titik Kumpul Hingga Lokasi Aksi, Wujud Pelayanan Humanis Polda Jateng Saat Mayday

Beri Pengawalan Sejak Titik Kumpul Hingga Lokasi Aksi, Wujud Pelayanan Humanis Polda Jateng Saat Mayday

Mei 1, 2026
Nuansa Nasionalisme Warnai Aksi May Day di Semarang, Buruh dan Personel Polda Jateng Nyanyikan Lagu Kebangsaan

Nuansa Nasionalisme Warnai Aksi May Day di Semarang, Buruh dan Personel Polda Jateng Nyanyikan Lagu Kebangsaan

Mei 1, 2026

CATEGORIES

  • Daerah
  • Investigasi
  • Luar Negeri
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Uncategorized
mediasinarpagigroup.com

  • Pedoman Media Siber
  • REDAKSI

Copyright © 2021 MEDIASINARPAGIGROUP.COM. All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Daerah
  • Investigasi
  • Luar Negeri
  • News

Copyright © 2021 MEDIASINARPAGIGROUP.COM. All Rights Reserved.