Kabupaten Solok | mediasinarpagigroup.com – Enam bulan berlalu sejak Banjir Bandang paling dahsyat dalam sejarah Kabupaten Solok meluluhlantakkan sejumlah Nagari pada tanggal 27–28 November 2026.
Luka itu belum sembuh, hamparan sawah masih terbengkalai, aliran sungai porak-poranda mencari alur baru, tebing-tebing runtuh, dan isak tangis warga yang rumahnya hanyut belum sepenuhnya reda, (20/4/2026)
Namun di tengah cuaca yang kian tak menentu, kekhawatiran warga justru kian menebal. Ancaman banjir susulan seperti bayang-bayang yang enggan pergi. Harapan untuk bangkit pun terasa tersendat oleh lambannya pemulihan dan pekerjaan normalisasi yang dinilai tak bertanggung jawab.
Janji Pemulihan yang Tersendat
Masyarakat terdampak mengaku kecewa. Enam bulan bukan waktu singkat untuk menunggu kepastian. “Musibah hidrometeorologi ini sudah memporak-porandakan harta benda kami. Kami hanya ingin uluran tangan pemerintah agar bisa bangkit, agar sawah bisa digarap lagi,” tutur seorang warga dengan mata yang menyimpan lelah.
Ironisnya, meski bantuan dari pusat disebut sudah turun ke daerah, perubahan di lapangan belum terasa signifikan. Sawah sebagai nadi ekonomi warga masih berupa hamparan lumpur dan batu. Aliran Batang Imang yang berubah arah dibiarkan menganga tanpa penguatan tebing yang tuntas.
PT.Adhi Karya dituding tinggalkan Pekerjaan begitu saja tidak kepastian untuk melaksanakan pekerjaan pemasangan btu Bronjong normalisasi sungai.
Perusahaan PT Adikarya sebuah perusahaan yang berkerja sama dengan pemerintah ini telah hadir di kabupaten Solok bahkan Sumatra barat yang di percaya oleh pemerintah untuk melaksanakan pekerjaan normalisasi sungai yang terdampak oleh banjir seluruh aliran sungai yang terdampak pekerjaan pemasangan batu Bronjong seluruhnya PT Adikarya ini yang melaksanakannya.
Sorotan paling tajam mengarah pada PT Adhi Karya, BUMN yang dipercaya pemerintah menangani normalisasi sungai. Di mata warga, pekerjaan justru ditinggalkan begitu saja. Titik-titik rawan yang mengancam permukiman tak diprioritaskan. Galian dibuka, lalu berpindah tanpa penyelesaian.
“Kerjanya seperti tambal sulam. Tebing dapur rumah saya digali untuk dipasang Bronjong, lalu ditinggal terbengkalai. Pindah ke tempat lain. Sementara tebing yang belok dan rawan bobol saat banjir 9 Maret 2026 lalu malah tak disentuh,” keluh Pak Joni, warga Padang Belimbing yang rumahnya terdampak.
Kekecewaan warga kian dalam ketika satgas pemulihan dari dinas terkait yang ditugas dari pemerintahan Daerah kabupaten Solok pascabencana yang dibentuk dinilai lamban dan berbelit. Proses yang seharusnya memulihkan justru dirasa menyulitkan. “Bukan pemerintah tak mau bantu. Tapi pelaksana di lapangan yang membuat kami kecewa,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Bayang-Bayang Bencana Berikutnya
Di tengah langit Solok yang sering mendung tanpa permisi, warga hanya bisa menengadah dengan waswas. Trauma 27 November belum pulih, namun ancaman berikutnya sudah di pelupuk mata. Jika normalisasi tak dituntaskan sesuai spesifikasi, maka banjir bandang susulan hanya menunggu waktu.
Pekerjaan pemulihan bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah janji rasa aman. Ketika janji itu mangkrak, yang runtuh bukan hanya tebing sungai, melainkan juga kepercayaan publik.
Menanggapi keluhan masyarakat terdampak bencana dan ia yang sedang mengalami trauma mendalam di tambah rasa ketakutan datang lagi banjir bandang yang lebih dahsyat.awak media sinar juga menghubungi pihak yang terkait koordinator lapangan wilayah Sumatra barat dari pihak PT Adikarya pak Purnomo via WA melalui handphone nya ia tidak membalas chat WA nya dan di telp juga tidak di jawab nya,begitu juga pihak BWS .V. Sumatra barat juga sama tidak merespon dan menjawab telpon dari awak media ini meskipun berulang kali di hubungi.
Hingga kini, PT Adhi Karya belum memberikan keterangan resmi. Sementara warga Koto Sani dan nagari terdampak lain hanya punya satu permintaan sederhana: tuntaskan pekerjaan dengan benar, sebelum air kembali murka.
Warga yang tak mau di sebutkan namanya juga menyebutkan dengan lugunya melontarkan nada kesal an kecewa sangat mendalam jika tidak sanggup pihak PT Adikarya untuk melaksanakan dan tidak bertanggung jawab kenapa di terima pekerjaan tsb
Karena bagi mereka, bertahan dari bencana saja sudah berat. Jangan ditambah lagi derita kami,sementara musim hujan telah tiba terkadang beberapa aliran air sungai yang ada terdampak bencana di kabupaten Solok sering meluap di antaranya sungai Batang imang nagari koto sani,saning bakar ,muara pingai ,paningahan sekarang sering meluap baru baru ini pada tanggal 30 maret 2026, 15 April 2926.
Masarakat juga bertanya tanya kenapa pihak dari pemerintahan kabupaten Solok dn provinsi seakan membisu seribu bahasa begitu banyak viral pemberitaannya seolah tidak mendengar keluhan masarakatnya.
Ironis nya bantuan Bencana dari pusat sudah turun dari bulan Januari 2025 kenapa terlalu lamban terealisasi nya ada apa dengan pemerintahan daerah seperti kunjungan ke mentan Andi Amran Sulaiman yang berkunjung ke Sumatra barat kabupaten Padang Pariaman yang penuh kekecewaan karena saat dia sampai dilokasi lahan persawahan lahan pertanian ia mennyaksikan di depan matanya melihat pemandangan yang tidak menyedapkan belum ada yang tampak perubahan hamparan sawah yang masih terlihat tertimbun lumpur dan pasir sejak pasca bencana alam yang lalu dan juga terlihat terkesan baru di mulai perehapan sawah pas di saat Kementan datang hari itu saja hal ini kethun oleh Kementan dari rumput dan semak nya yang tumbuh itu bukan rumput baru tumbuh tidak mungkin rumput ini berbohong,ini pasti rumput yang lama masih utuh artinya belum pernah di mulai perehapan perkerjaan ungkapnya dengan nada kesal .
Dalam hal ini masyarakat meminta dan berharap kepada pemerintah agar memperhatikan dan bergerak cepat menindak lanjuti mengawal perkerjaan pasca pemulihan bencana ini agar masyarakat dapat terbantu kembali kehidupan yang layak normal perekonomian dan kesejahteraan nya dan mengharapkan ke sigapan pemerintah membantu masyarakat dan selain itu masyarakat juga berharap kepada pemerintah meminta pertanggung jawaban pekerjaan normalisasi sungai pemasangan batu Bronjong yng ada sejumlah aliran sungai yang ada terdampak bencana di beberapa nagari di kabupaten Solok dan juga menegur Pihak PT Adikarya yang telah memulai perkejaan nya kurang lebih 4 bulan lamanya itu yang di duga tidak bertanggung jawab dengan pekerjaannya yang pergi tanpa kejelasan meninggalkan kekecewaan i pergi sesuka hatinya dan juga ia merasa tidak ada yang bisa menyentuh dan menegurnya seolah olah i kebal dengan hukum dan kritikan meskipun banyak kejanggalan kesalahan yng di lakukan ya baik dalam pemberitaan yang viral di media sosial sehingga menjadi perbincangan hangat di publik seolah tidak dapat tersentuh hukum karena dia sebuah perusahaan besar yang berkerja sama dengan BUMN ungkap warga menyeleneh.(Defrizal/Tim)
