Purwokerto | mediasinarpagigroup.com – Cinta, harta dan tahta, tiga hal yang banyak didamba, dicari dan dikejar manusia ini memang bisa membuat mabuk kepayang, menjadi senang, gembira, bahagia dan bangga.
Tetapi juga bisa membuat lupa diri, pelit, sombong dan takabur, sumber mala petaka, penyebab fitnah, keributan, dendam dan menyengsarakan karena tidak pandai mensyukuri, tidak dilandasi iman yang kuat, bahwa didunia ini tidak ada yang langgeng dan abadi, kecuali dzat yang Maha Agung, Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut ahli ilmu psychologi, definisi cinta dapat diartikan sebagai kasih Tuhan terhadap manusia yang tidak memiliki pamrih dan tidak membutuhkan balasan yang disebut Agape. Kasih orang tua terhadap anak sebagai kewajiban dalam mengasuh/mendidik anak hingga dewasa, yang disebut dengan kasih Filia, tetapi juga cinta yang berhubungan dengan nafsu yang terjadi pada dua orang lawan jenis, terkait dengan nafsu libido, seksualitas namanya cinta eros, yang bersifat memberi dan diberi, sama-sama menerima dan menikmati. Cinta sejati sebenarnya dapat diperoleh pada orang tua dan Tuhan. Pejabat negara yang terpuruk karena korup dapat ditinjau dari aspek cinta eros, maupun cinta harta dan tahta.
Biasanya, setiap *perbuatan selalu didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi keinginan tersebut. Banyak sekali motif seseorang dan tidak selalu negatif, misalnya motif berprestasi, beribadah supaya hidup lebih bermakna. Cinta, harta dan tahta hanyalah merupakan ilustrasi atau contoh dari motif yang kebetulan berkonotasi negarif/jelek.
Cinta juga dapat diartikan sebagai kebutuhan sosial atau love needs atau kebutuhan seks, sebagai kebutuhan fisiologis dari hierarki kebutuhan maslows.
Kalau pengendalian dari pada ego atau super ego tidak berhasil, maka dalam diri orang tersebut yang dipikirkan adalah masalah kesenangan atau kepuasan cinta seksualitas, harta dan tahta.
Diera globalisasi yang bersifat liberal, free of all, konsumtifisme, kompetitif, hedonisme, mendewakan kesenangan, kemerosotan moral atau keyakinan agama, selain kemajuan tekhnologi khususnya informatika, semua itu sebagai input nilai moral yang seharusnya dikritisi secara hakiki oleh setiap orang sehingga memiliki pedoman/prinsip dalam setiap bertindak, apakah yang akan dilakukan itu baik atau buruk, benar atau salah, boleh atau tidak, patut atau tidak patut, yaitu perilaku/perbuatan yang berdasarkan etika.moral.
Bagi pejabat yang korup, barangkali motif yang menjadi dorongan utama adalah harta, tahta dan cinta. Hal tersebut terjadi karena dorongan dari sumber internal dimana id tidak dapat dikendalikan ego dan super ego, tetapi dapat juga dibutakan oleh faktor eksternal, khususnya iming-iming, janji, cinta, harta dan tahta yang sebenarnya merupakan kebutuhan fisiologis berlebihan, sehingga perbuatan mereka tidak dilandasi oleh nilai etika dan moral yang kemudian menjadi bertambah rakus.
Seorang pemimpin hendaknya memiliki motif tujuan dalam bekerja adalah benar-benar untuk mencapai kesejahteraan masyarakat/pegawai yang dipimpinnya. Oleh karena itu faktor utama dalam memilih pemimpin adalah didasarkan pada bagaimana karakter dan moralnya, tudak hanya pada kemampuan managerial profesinya semata.
Para koruptor bukan orang-orang bodoh, tapi orang yang morak, etika dan akhlaknya rendah. Lebih jauh kita harus mengkoreksi sendiri dalam rangka menciptakan nation building. Sebaiknya sebelum melakukan perbuatan, hendaknya kita kritisi secara moral dan agama, apakah perbuatan kita layak dilakukan baik, benar dan pantas/patut?
Cinta berhubungan dengan hati dan perasaan, hanya orang yang berhati lembut dan berperasaan halus yang bisa merasakan getaran cinta. Ibarat bunga bila pandai merawat akan tampak, tumbuh indah. Harta identik uang, bila pandai menggunakan dan memanfaatkan akan menciptakan kesejahteraan. Sedangkan tahta identik jabatan, amanah yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai ibadah.
Intinya, cinta, harta dan tahta adalah anugrah, titipan dan amanah untuk lebih meningkatkan ibadah kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bila dicapai dengan landasan nafsu semata hanya akan menyengsarakan, tapi bila dilandasi dengan iman dan taqwa, Iinsya Alloh akan membawa keberkahan/kebahagiaan. (Purwokerto, 1 April 2026/dari berbagai sumber referensi).




