Banyumas | mediasinaroagigroup.com – Diera perkembangan tekhnologi yang melaju begitu pesat seperti sekarang ini, menurut para pemerhati lingkungan sosial kemasyarakatan, bahwa kini memang telah memasuki zaman edan yang diakibatkan oleh terjadinya persaingan yang begitu ketat diberbagai bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, ketenaga-kerjaan, ketidak-adilan, serta penegakan hukum yang tidak sehat.
Dalam kitab-kitab suci dan ramalan-ramalan orang pintar diseluruh dunia, termasuk ramalan-ramalan para pujangga kraton dinegeri kita sendiri bahwa memasuki tahun 2000 dunia mulai mengalami berbagai macam bencana alam yang dahsyat, dan itu telah terbukti dan terjadi pada tahun-tahun belakangan ini. Sedangkan Tuhan telah memberikan peringatan-peringatan oleh karena ulah, perilaku dan perbuatan manusia yang berani berbuat nekad melakukan kesalahan, pelanggaran dan dosa dengan menepuk dada, tetapi rupanya manusia bukannya mau mengakui kesalahan.nya itu, tetapi bahkan makin lama makin menjadi-jadi dan tidak takut akan mendapatkan hukuman dari Tuhan YME.
Masih dibulan Januari awal tahun 2026 ini, musibah bencana alam kembali terjadi di.negri yang kaya akan sumber daya alam yang tersebar disetiap pulau tanah air ini. Tanah longsor, banjir bandang, banjir lumpur akibat intensitas curah hujan tinggi yang hampir tiap hari turun disertai angin kencang melanda/terjadi diberbagai wilayah/daerah, termasuk di.kabupaten Banyumas, hampir setiap sungai yang mengalir melewati kota Purwokerto, seperti sungai Serayu, Banjaran, Mengaji, sungai Pelus dan bahkan sungai Kranji yang mengalir ditengah kota Purwokerto, yang semua aliran air mengalir hulunya bermuara dari utara kota Puwokerto, yaitu dari hutan/wisata Baturaden yang berada dikaki dan lereng Gunung Slamet, termasuk sungai – sungai besar yang mengalir melewati daerah kabupaten Purbalingga, seperti sungai Klawing dan Serayu yang endingnya melewati/masuk ke.daerah kabupaten Cilacap hingga berakhir masuk kepesisir pantai laut selatan.
Menurut para pengamat lingkungan sosial kemasyarakatan, kemungkinan besar terjadi akibat dari adanya penambangan pasir yang illegal diberbagai titik lokasi didaerah Banyumas dan sekitarnya serta penebangan pohon hutan yang tidak berarturan dan terukur, yang diduga mengakibatkan terjadinya tanah longsor, banjir besar, disamping karena intensitas tingginya curah hujan disertai angin kencang.
“Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam yang mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”. Kenapa Ebiet G.A.D. yang melantunkan lagu religius berjudul “Perjalanan” itu tidak bertanya kepada manusia, tapi malah bertanya kepada rumput yang bergoyang, mungkin karena mas Ebiet lebih percaya seandainya rumput-rumput itu mampu menjawab tentu tidak akan mungkin berdusta atau menipu.
Dampak pasca terjadinya musibah bencana alam banjir bandang dan tanah longsor, telah membuat porak poranda dan rusaknya berbagai macam fasilitas umum seperti jembatan, aliran listrik, sawah ladang dan peternakan serta rumah-rumah pemukiman warga dan bahkan ada tempat ibadah seperti mushola, pos kamling disekitar area/lokasi yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor, sehingga kemungkinan adanya korban warga yang mengalami.luka bwrat, serta kerugian material yang tidak bisa terhitung nilai nominal rupiahnya.
Yang jelas terjadinya musibah bencana alam yang datang bertubi-tubi diberbagai daerah kabupaten, propinsi yang tersebar hingga kepeloksok pedesaan/perkampungan daerah pegunungan telan menciptakan dan meninggalkan pernik-pernik yang menyedihkan, memilukan dan menyayat hati kita semua.
Ditengah cobaan dan ujian yang begitu berat bagi ummat manusia melalui musibah bencana alam yang datang siang ataupun malam hari tanpa bisa diprediksi sebelumnya, roda dunia ini akan terus berpitar dan melaju sesuai dengan porosnya.
Demikian juga dengan perjalanan hidup manusia, juga tidak akan bisa statis dan diam duduk berpangku tangan saja. Mau tidak mau harus selalu melakukan aktifitas, berupaya untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas kerja/karyanya sesuai dengan bidang tugas, kemampuan dan potensi yang ditekuni/dimiliki masing-masing individu untuk mencapai kesejahteraan diri dan keluarganya.
Orang bijak mengatakan, hidup adalah beramal, berkarya, berupaya atau bekerja. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak mau berupaya, berjuang untuk merubah nasibnya dengan harapan agar nasibnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Ada kata mutiara yang sangat klasik layak kita renungkan, “Janganlah kamu hanya tinggal duduk tepekur sambil hanya menadahkan kedua telapak tangan kelangit, kemudian hanya memohon dan memohon dari sejak matahari terbit hingga terbenam keufuk barat, tetapi tidak ada yang kau perbuat atau kau perjuangkan, sedangkan langit tidak akan mungkin menurunkan hujan emas, perak atau benda-benda berharga lainnya”.
Tuhan sendiri pernah berfirman, bahwa masing-masing orang memperoleh derajat yang seimbang dengan apa yang memperhatikan segala apa yang kamu perbuat, bahkan apa yang terbersit dan terencana dalam hatimu, Tuhan pasti mengetahuinya. Sebagai penutup catatan di.akhir Januari 2026 dengan sebuah hadist klasik dari rasulullah nabi Muhammad SAW. “Barang siapa yang memperbaiki sesuatu/barang yang telah rusak, dikala ummatku sedang rusak, maka Tuhan akan mengampuni dosa/kesalahan yang pernah diperbuatnya. (Purwokerto, Akhir Januari 2026)




