Purwokerto | mediasinarpagigroup.com – Ibarat anak panah yang melesat dari busurnya, waktu berjalan seakan begitu cepat, tapi terkadang terasa begitu lamban seperti se ekor siput yang merangkak diatas rumput., Pada setiap ulang tahun Kemerdekaan RI, sang Proklamator, Almarhum Bung Karno yang telah berjuang keras melawan kedholiman penjajah dinegeri kita ini, bersama-sama seluruh rakyat dan para pejuang beserta para pahlawan Kemerdekaan RI yang banyak berguguran mengorbankan jiwa dan raga dengan tetesan darah merah untuk mengusir penjajah, beliau senantiasa berpesan agar anak cucu kita jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah yang disingkat “Jasmerah” untuk dapat mengenang perjuangan dan jasa-jasanya.
Akan tetapi dalam perjalanan sejarah pasca kemerdekaan, untuk mencapai cita-cita menjadi bangsa yang besar, aman, damai, sejahtera, sentausa, adil dan makmur, masih harus berjuang melalui proses yang panjang, menghadapi berbagai macam cobaan, hambatan dan bahkan pengkhianatan/perebutan kekuasaan, seperti insiden DI-TII, peristiwa G.30.S/PKI 1965, demonstrasi/Aksi Malari/15 januari 1975, serta intrik-intrik politik perebutan kekuasaan yang terjadi pada era orde baru melengserkan rezim sang penguasa negeri hingga 30 tahun yang mengakibatkan situasi politik dalam negeri kian memanas sampai terjadi krisis kepemimpinan, benar-benar menghambat pertahanan keamanan nasional dan tegaknya NKRI, menjadikan rakyat semakin sengsara dan menderita, kejahatan merajalela, angka pengangguran semakin signifikan, KKN semakin membudaya.
Bila sampai empat pilar demokrasi dinegeri ini (eksekutif, legislatif, yudikatif dan pers) yang merupakan pondasi kekuatan bangsa bersama lembaga tinggi negara melemah persatuan dan kesatuan nya, bahkan sampai saling menjatuhkan diantara institusi nya ini benar – benar sangat memprihatinkan,termasuk melemahnya perekat silaturahmi yang tercantum dalam lambang Garuda Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Munculnya peradaban tekhnologi canggih yang begitu pesat akibat era globalisasi dan perdagangan bebas, telah banyak merubah tatanan sosial dan ekonomi, satu persatu segala peralatan manual tersingkir minggir, tersungkur dan terkubu, dari mulai peralatan pertanian, pendidikan, komunikasi dan transportasi, mau tidak mau terpaksa harus beradaptasi menghadapi fakta, tanpa kata-kata dan etika.
Aktifitas Pers dibidang informasi yang aku tekuni bertahun-tahun sejak 1975 sebagai pemula di SK. Republik, Bahari, Krida Wiyata, Swadesi, Suara Baru, Forum Dialog, Banyumas Pos, Majalah Tajam/Obyektif, Kompasindo, Merdeka-Merdeka, Progresif/Progresif-Jaya dan Koran Sinar Pagi yang masih aku pertahankan untuk tetap dapat bersilaturahmi sebagai sesama anak negeri, sebangsa dan se tanah-air, sama-sama ingin beraktifitas sesuai dengan bidang kemampuan yang berbeda-beda, dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan satu tujuan, menjaga persatuan dan kesatuan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh dan jatuh, salam merdeka dari Widoyo di Purwokerto.(Red)